Sep
16

Virus yang Ajaib (part I)

Filed Under (Uncategorized) by novasimanjuntak on 16-09-2008

 

Dari mulai aku mengenal keindahan.. (he he he.. kaya penyair aja awalnya), aku paling ‘ga menyukai kakiku. Dalam kacamataku, kaki itu kurang jenjang, bentuknya kurang cantik, apalagi warnanya.. sehingga aku paling alergi kalau paka rok or celana pendek or something yang harus memperlihatkan kaki.

 

Saat masi kecil / ABG sering banget perang dingin ama nyokap karena beliau minta aku pake rok kalau ke Gereja, katanya lebih sopan dan lebih cantik. Untuk memotivasi aku, beliau suka menjahitkan atau membeli rok yang lucu-lucu. ‚Aku bilang „roknya bagus dan lucu“, nyokap sueneng banget ngedengernya. Sayangnya  aku tutup dengan kalimat “tapi jelek kalu aku yang pake“. Hasilnya rok-rok cantik itu hanya nangkring di lemari dan kalau ada sodara yang datang, yah diwariskan ke mereka aja. Tapi sempet juga seneng pake celana kodok walaupun pendek. Karena bentuknya lucu dan tidak menarik perhatian orang untuk melihat kakiku (Opiniku waktu itu). Kalau nyokap mulai maksa-maksa, aku selalu ngeles, meluncurkan kalimat-kalimat pembelaan. Salah satunya adalah ”Tuhan kan lihat hatiku, bukan rok..!” he he he lagi.. untung ga ada yang nyeletuk ‘emang loe punya hati…??”

Sewaktu aku SMA, pingin cepet-cepet lulus supaya ga pake rok lagi..

Ketika sudah dewasa, aku pernah tidak deal dengan salah satu perusahaan, karena di company itu HRD seragamnya adalah rok (Hua… hari gini..?? Sorry ye..)

 

Begitulah perasaanku terhadap kakiku. Tidak hanya kaki tapi, jari-jarinya juga. Pokoknya aku ga suka dengan kakiku, seperti kalau kamu ga suka sama cowo/seseorang yang dekat di area social life mu. Jadi risih.. Kalau liat temen-temen pake sepatu terbuka rasanya seneng banget deh liat jari kakinya yang bagus. Jadi terlihat lebih cantik.  Bahkan sering support temen untuk beli sepatu yang cantik. Mungkin orang terutama cowo ga habis piker dengan wanita yang beli sepatu dengan harga yang ‘wow’, mereka bilang ‘Cuma buat sepatu..???” like Charlotte di Sex n d City. Tapi aku memahami mereka kok, terutama kalau aku punya kaki seindah itu he he he.. Kalau aku… kalau bukan sendal sport, pastinya aku ga bakal pake sendal or sepatu terbuka. 

 

Buat aku, cewe sexy itu adalah cewe yang punya betis dan kaki yang cantik. Kalau orang jatuh cinta pada pandangan pertama pada wajah atau mata maka, kalau aku terlahir sebagai laki-laki mungkin aku akan jatuh cinta kalau liat cewe dengan betis yang cantik. He he he.. Terus aku suru pake rok setiap hari hua ha ha ha….

 

So I am very appreciate to all girls with  beautiful skirt . .. sangat menghibur dan indah serta membuat dunia jadi lebih ceria. Mangkanya gw seneng kalau ngantri di bank yang teller or staff-nya pake rok… cantik ei…

 

Tapi semua itu adalah dulu. Sekarang aku sangat mencintai kakiku… Senangnya memiliki kedua kaki yang sehat dan sempurna… Orang bijak pernah berkata;

 ’Kamu akan lebih menghargai sesuatu kalau sudah kehilangan’

untungnya aku tidak kehilangan kedua kakiku yang cantik ini J

 

Semua ini terjadi pada Kamis 4 Sep 2008, jm 04.00 wib saat rekan-rekan muslim sedang sahur, tiba-tiba aku terbangun.

Ada rasa tidak enak di kakiku. Aku berusaha untuk mengerakkannya tapi ga bisa.. dan yang lebih membuatku stress adalah aku tidak bisa merasakan bagian kakiku mulai dari lutut sampai jari – jari kaki. Aku merasa baal, dan sperti tidak memiliki kaki sama sekali…  Awalnya aku berusaha untuk positif thingking dan berpikir mungkin ini hanya kondisi psikis dimana aku tanpa sadar bermimpi sesuatu yang membuatku seperti ini. Mencoba untuk rilex dan berdoa (dan tersadar bahwa sudah dua minggu berturut-turut aku ga ke gereja). Setenang mungkin… berbekal dengan ilmu Yoga yang pernah didapat aku mengatur nafas dan huff.. yup… berusaha untuk berdiri tapi gagal… semangkin dicoba semangkin gagal… bahkan aku ga bisa memerintahkan otakku untuk menggerakkan jari kakiku. Berulang-ulang mencoba terus-terusan gagal. Akhirnya berbekal pengetahuan tentang suster ngesot aku berusaha untuk ngesot di rumahku sendiri. Membuka pintu kamar dan kebetulan kebiasaanku adalah selalu meletakkan sapu di dekat kamar jadinya aku berusaha berdiri dengan bantuan sapu. Syukurnya lumayan bisa. Aku setengah berdiri (bungkuk-Red), membuka kunci pintu luar dan mengambil minum. Beberapa detik kemudian rasa sakit yang luar biasa mulai menyerang kaki. Semua persendian dari lutut/dengkul sampai jari kaki terasa sakit yang luar biasa diiringi dengan rasa sakit di kepalaku dan badanku mulai terasa demam. Saat itu aku berpikir bahwa kemungkinan rasa sakit ini karena menahankan nyeri dari kaki tersebut, karena sebelum aku berhasil berdiri aku tidak merasa pusing dan demam.

 

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan berbaring. Satu jam telah berlalu tapi belum ada perubahan sama sekali, bahkan aku merasa kondisiku semangkin parah. Sialnya aku tinggal dirumah sendiri (my husband masi di Yk). Secepat kilat aku telpon adikku, tapi ga aktif.. ok mungkin lagi tidur karena memang masi jam 5 pagi dan kebiasannya memang bangun agak siang lantas aku meninggalkan SMS supaya dia datang ke bogor karena aku sakit. Mau telpon keluarga dan orang tua, tapi aku worry malah membuat mereka panik dan akhirnya jatuh sakit. Padahal usia di atas 50 tahun sungguh harus terjaga ketenangan jiwanya. Jadi aku memutuskan untuk tidak menghubungi mereka. Lalu berusaha menelpon seorang teman dekat, tapi HPnya ga aktif juga kebetulan ga tau no. Telpon rumahnya. Akhirnya aku mulai cemas.. mulai ketakutan dan menangis sendiri. Menagis bukan karena rasa sakitnya (kalau aku tidak gerakkan kakiku maka tidak akan terasa sakit bahkan yang benar adalah tidak merasan apapun), so aku nangis karena stress dan tertekan membayangkan aku kehilangan kakiku dan harus menggunakan kursi roda. Oh.. my god… buang jauh-jauh pikiran itu.

 

Tinggal di rumah sendirian dan yang kebetulan di perumahan baru dimana masi banyak rumah kosong membuatku tidak bisa minta bantuan tetangga. Tetangga sebelahku berangkat kerja dari subuh karena memang kerjanya di Jakarta. Akhirnya aku memutuskan telpon my boss, Bu Yuni (salah satu boss yang tinggal di Bogor).. lagi-lagi apes.. HP nya ga diangkat. Tapi aku yakin beliau pasti akan telpon balik. Keyakinanku benar 100 %. Bu Yuni telpon balik dan aku ceritakan kondisiku. Tanpa embel-embel dan tidak membebani hatiku (berusaha membuatku nyaman) beliau langsung bilang ”Nova tenang aja, nanti saya kirim driver ke rumah Nova, dan langsung ke Rumah Sakit. Tapi sabar yah..nunggunya”. Kalimat itu ampuh untuk menenangkan jiwaku. Sebetulnya waktu aku cerita kronologis kejadiannya aku berusaha berkata – kata dengan suara yang pelan dan teratur. Tapi hatiku tidak seteratur dan setenang kata-kata yang keluar dari mulutku tentunya.

 

Walhasil beberapa lama kemudian mungkin 1 jam, (aku ga liat jam, tapi secara perasaan kayanya luamaaaaa sekali)  Mba Nia (Team member HR) dan Pak Udin (Driver) datang ke rumah. Mereka menolongku dengan cak-ceknya. Aku digotong ke mobil (bayangkan, megangkat seorang wanita dg berat 53 kg + dosa + gravitasi bumi, pasti berat dan sulit…!!), dan dibaringkan dibagian belakang dengan posisi kaki naik keatas bersandar ke kaca, karena kakiku kaku kaya kayu (kalimatnya terdengar lucu, tapi faktanya mengerikan).  Kasihan sekali melihat Mba Nia & Pak Udin yang sedang puasa dan harus mengangkat beban tubuhku. Semoga pahalanya dikuadratkan oleh yang kuasa dan diberi bonus kesehatan, rejeki dan keluarga yang adem, tentrem dan bahagia.

 

Kami meluncur ke BMC, masuk IGD dan tang ting tung - tang ting tung, dalam beberapa menit saja aku sudah di infus, tes darah, suhu, tekanan dsb. Sementara suhunya 39.5ºC, tekanan 90/70, dan pengecekan darah belum keluar.

 

Dokter minta aku angkat kaki, aku bisa mengangkatnya karena kedua pahaku baik-baik saja, dan mereka menginterview segala kegiatan dan makananku dalam week itu. Namun semuanya tampak normal. Bahkan ada pertanyaan ’melakukan traveling dalam minggu ini..?” jawabanya tidak, kalau maksudnya ke luar kota atau tempat yang jauhnya 20 km atau lebih. Kalau ketemu dengan orang – orang yah pasti yah.. secara gw kerja di HRD dan sering pake public transportation lagi… habis sesi interview mereka memindahkan aku ke kamar RS. Sorenya dapat hasil darah kalau semua hasilnya normal kecuali Hb ku yang 5 point lebih rendah dan leukositku yang tinggi: 16700 (padahal kalau orang normal maxsimal hanya 10.000 saja). Dari data tersebut dokter internist yang baik hati (Dokter Djunaidi Ilyas Sp. PD, dulu pernah merawatku waktu aku kena typhus) menerangkan bahwa aku terkena infeksi virus. Kami berdiskusi, aku mencoba untuk mencari tau virus apa, dan apa akibat yang lain atau efek yang mungkin terjadi. Dengan jujurnya sang dokter menjawab, sebelum bertemu denganku beliau sudah membaca referensi yang dimiliki, dan beliau sendiri belum pernah menemukan kasus sepertiku. Biasanya sebelum baal orang sakit (OS), akan deman atau ngilu-mgilu terlebih dahulu. Jadi belum ada OS yang langsung baal dan lost function terhadap anggota tubuhnya dalah kondisi otak, jantung dan paru masi bekerja dengan baik. Indikasi ada virus adalah dengan adanya jumlah Leukosit yang tinggi, beliau bilang ”tubuh Ibu Nova sedang melawan virusnya, kalau kuat maka virusnya akan kalah”. So pendeknya adalah  it’s about life time antara virus dan tubuhku. Penjelassanya clear dan masuk akal tapi tetap saja membingungkanku. Walhasil dokter bilang tim medis akan observe selama 24 jam, kalau tidak ada perubahan yang membaik maka mereka akan mengirimku ke RSCM (Karena RS ini merupakan RS referensi untuk segala penyakit ’aneh’ yang belum jelas). Aku tambah down, tapi hanya bisa senyum dan bersyukur memiliki dokter yang terbuka dan jujur serta tidak mendramatisir agar terlihat sebagai dokter yang pintar. Walaupun berat hati dan ribuan pertanyaan nyantel dan berseliweran dikepalaku akhirnya aku hanya bisa menerimanya, tapi aku punya keyakinan bahwa aku sudah berada ditangan yang benar, dan banyak orang yang akan mendoakan kesembuhanku even mereka gat au kalau aku sakit. Hal itu meyakinkanku bahwa semuannya pasti akan baik-baik saja.

 

Syukurnya setelah magrib (Aku tau karena ada pengumuman buka puasa dari speaker kamarku), jari-jari kakiku mulai bisa digerak-gerkakkan. Dengan bantuan antibiotik, obat-obatan dan semua treatment dari RS BMC maka dalam 3 hari aku sudah bisa berdiri. Hari keempat aku sudah mulai bisa jalan tapi masih sakit, kaku dan terasa aneh. Hari kelima antibiotik sudah selesai dan aku minta pulang ke Rumah.

 

Jum’at, 12 Sep 08 yang lalu aku melakukan cek ulang, Leukosit sudah normal. Dokter bilang virusnya KO dan mudah-mudahan sudah hilang dan bersih dari tubuhku.

 

Sekarang kakiku sudah membaik, sudah bisa jalan tapi masi takut kalau pake high heel.

<span style=”mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-size: 14.0pt;” lang=”SV”%3



Comments are closed.